Sekolah Diliburkan Akibat Kabut Asap, Anak-anak Justru Bermain Biliar di Ruang Terbuka
PONTIANAK, TERASKALBAR.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di tengah musim kemarau kembali memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat di Kota Pontianak. Memburuknya kualitas udara dan meningkatnya risiko gangguan pernapasan membuat aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah harus disesuaikan, termasuk melalui pembelajaran dari rumah.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah perlindungan terhadap kesehatan siswa. Namun, kondisi di lapangan justru memperlihatkan tantangan lain yang perlu menjadi perhatian bersama.
Sejumlah anak usia sekolah terlihat menghabiskan waktu liburnya dengan berkumpul dan bermain biliar di area semi-outdoor. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa ketika kegiatan sekolah dihentikan, sebagian anak justru mencari aktivitas di luar rumah.
Kondisi ini menjadi perhatian karena anak-anak merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap dampak buruk polusi udara akibat asap karhutla.
Paparan partikulat halus dari asap kebakaran dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama apabila aktivitas dilakukan di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk.
Libur Sekolah Bukan Berarti Bebas Beraktivitas di Luar
Keputusan meliburkan sekolah atau mengalihkan pembelajaran ke sistem daring bukan berarti anak-anak memiliki keleluasaan untuk melakukan berbagai aktivitas di luar rumah.
Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada anak mengenai kondisi udara dan risiko kesehatan selama kabut asap masih terjadi.
Anak-anak perlu diarahkan untuk tetap berada di dalam ruangan, mengurangi aktivitas di luar rumah, serta menggunakan masker yang sesuai apabila memang harus keluar.
Di sisi lain, pemerintah dan sekolah juga dituntut tidak hanya mengeluarkan kebijakan pembelajaran dari rumah, tetapi memastikan anak dan orang tua mendapatkan edukasi yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan selama kondisi kualitas udara memburuk.
Belajar Daring Juga Memiliki Tantangan
Pembelajaran dari rumah memang menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi paparan siswa terhadap polusi udara. Namun, sistem ini juga tidak lepas dari berbagai persoalan.
Kejenuhan belajar, keterbatasan interaksi antara guru dan siswa, kendala jaringan internet hingga efektivitas penyampaian materi menjadi tantangan tersendiri.
Jika kondisi tersebut berlangsung cukup lama, anak berpotensi kehilangan fokus belajar dan mencari kegiatan lain di luar rumah.
Karena itu, diperlukan strategi agar pembelajaran dari rumah tetap menarik sekaligus memastikan anak-anak tidak menghabiskan waktu di luar ruangan dalam kondisi udara yang belum aman.
Kapan Sekolah Bisa Kembali Dibuka?
Harapan orang tua dan siswa agar kegiatan belajar tatap muka kembali berjalan tentu sangat bergantung pada perkembangan kualitas udara dan kondisi karhutla.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala sebagai dasar dalam menentukan kebijakan pendidikan.
Jika kondisi udara telah membaik dan memenuhi standar keamanan kesehatan, pembelajaran tatap muka dapat dipertimbangkan untuk kembali dilaksanakan secara bertahap.
Namun, keselamatan siswa tetap harus menjadi prioritas utama.
Jika Sekolah Dibuka, Protokol Kesehatan Harus Diperketat
Apabila kondisi memungkinkan sekolah kembali dibuka, penerapan protokol perlindungan terhadap kabut asap perlu menjadi perhatian serius.
Sekolah dapat menyiapkan masker yang sesuai untuk perlindungan dari partikulat udara, terutama bagi siswa yang harus melakukan aktivitas di luar ruangan.
Penggunaan masker juga perlu disertai edukasi mengenai cara penggunaan yang benar serta pengawasan dari guru dan pihak sekolah.
Selain itu, selama kualitas udara belum sepenuhnya pulih, kegiatan yang dilakukan di luar ruangan seperti olahraga, upacara dan aktivitas lainnya sebaiknya dibatasi atau ditiadakan sementara.
Kegiatan pembelajaran lebih baik dipusatkan di dalam ruangan dengan sirkulasi dan filtrasi udara yang memadai.
Perlindungan Anak Harus Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Fenomena anak-anak bermain di luar rumah ketika sekolah diliburkan menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak selama kondisi karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan sekolah.
Orang tua, guru, lingkungan masyarakat hingga pemerintah harus memiliki perhatian yang sama.
Libur sekolah seharusnya menjadi momentum untuk menjaga anak-anak dari paparan udara buruk, bukan justru membuat mereka lebih banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.
Di tengah ancaman karhutla dan kabut asap, keselamatan serta kesehatan generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas.
Jangan sampai sekolah diliburkan untuk melindungi anak dari asap, tetapi anak justru keluar rumah dan terpapar asap karena kurangnya pengawasan dan edukasi.
Pewarta : Khairil Anwar
Editor : MAR
TerasKalbar.com — Dari Kalbar, Menyapa Nusantara.

